Jumat, 26 November 2010

Peningkatan Kualitas Musik Dalam Negeri

Peningkatan Kualitas Musik Dalam Negeri

Peningkatan Kualitas Akustik Musik Tradisional Indonesia




Peningkatan kualitas akustik musik tradisional Indonesia

Latar Belakang:

· Proposal ini disusun dengan latar belakang Visi ITB yaitu : ITB menjadi lembaga pendidikan tinggi dan pusat pengembangan sains, teknologi dan seni yang unggul, handal dan bermartabat di dunia, yang bersama dengan lembaga terkemuka bangsa menghantarkan masyarakat Indonesia menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat dan sejahtera, dan juga Misi ITB yaitu : Memandu perkembangan dan perubahan yang dilakukan oleh masyarakat, dengan jalan melaksanakan tridarma berupa penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat dengan cara yang inovatif dan bermutu tinggi, serta tanggap terhadap perubahan global dan tantangan lokal. Serta Sasaran-nya antara lain : Menjadi perguruan tinggi penelitian dan pengembangan, agar selalu berada di garis depan sains, teknologi dan seni, melalui peran aktif dalam kemajuan keilmuan dunia dan kemampuan mengembangkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas potensi dan keunikan bangsa serta menjadi institusi yang dapat memandu perubahan yang terjadi di masyarakat melalui wawasan nilai moral dan etika, serta karya pengabdian masyarakat yang berkualitas. Visi ITB tersebut dapat menunjang Visi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata : Terwujudnya jatidiri bangsa, persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka multikultural, kesejahteraan rakyat dan persahabatan antar bangsa. MISI nya antara lain : Melakukan pelestarian dan pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai luhur ; dan melakukan pengembangan sumber daya kebudayaan dan pariwisata.
· Pada Rencana Strategis Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2005-2009 diungkapkan : Proses globalisasi yang dimotori oleh kemajuan di bidang “Triple T”: Tourism,Telecomunication, dan Transportation telah mendorong berbagai negara mengembangkan ketahanan budaya agar dapat bertahan dari terpaan globalisasi serta mengembangkan pariwisata sebagai usaha kemajuan ekonomi bangsanya. Upaya ini dilakukan berbagai negara, tak terkecuali Indonesia terus berupaya mengembangkan kebudayaan dan pariwisata sebagai salah satu andalan Pemerintah dalam memulihkan dari kondisi krisis bangsa. Adapun persoalan dalam pengembangan kebudayaan saat ini adalah bagaimana membangun karakter bangsa (nation and character building), serta bagaimana setiap warganegara diberi akses untuk saling mengenal kebudayaan yang berbeda agar dapat hidup berdampingan secara damai sebagaimana yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa (the founding fathers) dalam mukadimah Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu prioritas pembangunan kebudayaan diarahkan untuk MENGEMBANGKAN KEBUDAYAAN YANG BERLANDASKAN PADA NILAI-NILAI LUHUR dengan kebijakan yang diarahkan untuk: revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial untuk memperkuat identitas nasional. Salah satu sasaran pengembangan kebudayaan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2004 – 2009 adalah: Meningkatnya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya. Selanjutnya secara lebih terfokus sasaran kebudayaan yang telah ditetapkan dalam RPJM tersebut salah satunya adalah : Terwujudnya industri dan karya budaya yang mengacu pada budaya bangsa, dan perlindungan hukum individual dan komunal.
· Penilaian dan Kajian Lingkungan Eksternal menunjukkan adanya peluang antara lain:
  • Pengaruh budaya asing dalam era globalisasi akan berdampak positif terhadap ketahanan budaya dengan adanya akulturasi budaya yaitu cirikhas dan identitas kebudayaan semakin berkembang;
  • Penghargaan dunia atas warisan budaya lokal mampu mengangkat citra dan martabat bangsa dan negara;
  • Banyaknya lembaga/pihak di luar negeri yang tertarik akan kekayaan budaya bangsa baik berupa benda peninggalan sejarah dan purbakala (benda cagar budaya) maupun tak benda seperti kesenian dan nilai tradisi;
  • Kemajuan teknologi membuka peluang untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa baik berupa benda peninggalan sejarah dan purbakala (benda cagar budaya) maupun tak benda seperti kesenian dan nilai tradisi bagi kesejahteraan masyarakat;
  • Kekayaan alam dan budaya yang melimpah mampu menjadikan keragaman dan keunikan daya tarik alam dan budaya sebagai magnet untuk mendatangkan wisatawan.
Ancaman yang diidentifikasi antara lain :
  • Kekayaan budaya bangsa baik dalam bentuk benda (tangible) dan yang tak benda (intangible) belum dikelola secara sinergis dalam rangka pembangunan nasional;
  • dengan dilaksanakan otonomi daerah, pengelolaan Benda Cagar Budaya oleh daerah menjadi kurang maksimal, hal ini disebabkan antara lain : masalah kemampuan SDM, kapasitas sumber daya dan pendanaan yang terbatas;
  • Masih kurangnya penghargaan terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual di bidang kebudayaan dengan melihat terjadinya hak paten atas karya dari pembajakan karya seni dan film;
  • Lemahnya SDM pengelola kekayaan budaya baik di tingkat pusat, daerah dan masyarakat;
  • Pengaruh budaya asing dalam era globalisasi akan berdampak negatif terhadap ketahanan budaya seperti kemungkinan terjadinya erosi ciri khas dan identitas nilai budaya Indonesia;
  • Lajunya pembangunan ekonomi yang kurang diimbangi oleh pembangunan karakter bangsa akan mengakibatkan krisis budaya yang selanjutnya memperlemah jatidiri bangsa (nasional) dan ketahanan budaya;
  • Apresiasi dan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk dalam negeri masih rendah, antara lain karena keterbatasan informasi;
  • Maraknya hambatan regulasi akibat Otonomi Daerah yang bertujuan dan berlomba-lomba mengejar dan menaikkan PAD yang terkait dengan perijinan, pajak, dan retribusi daerah;
  • Pelaksanaan otonomi daerah di bidang kepariwisataan secara penuh dan mandiri di berbagai daerah mempengaruhi lemahnya koordinasi dan sinergi dalam pelaksanaan pembangunan kepariwisataan padahal kegiatan pariwisata memiliki dimensi yang lintas wilayah dan lintas sektor.
Sementara itu kekuatan nya antara lain :
  • Kekayaan nilai budaya bangsa, yang bersumber pada keanekeragaman suku, bahasa, etnis, adat istiadat dan kekayaan nilai budaya lainnya (multikultural -> pluralisme);
  • Telah disusun Konsep Pembangunan Berwawasan Kebudayaan, dimana orientasi pembangunan tidak semata-mata berorientasi ekonomi tetapi juga diperlukan sentuhan budaya yang akan menjadi perekat keuntuhan NKRI;
  • Telah disusun Pedoman Etika Kehidupan Berbangsa yang mengangkat nilai-nilai luhur budaya bangsa yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa saat ini dan mendatang;
  • Telah tersedianya Standar, Pedoman teknis, Kriteria, dan Prosedur pengelolaan kebudayaan;
  • Keragaman seni dan semakin banyaknya keunikan budaya menjadi warisan dunia diantaranya wayang dan keris telah ditetapkan sebagai warisan dunia;
  • Karena potensi ekonomi pariwisata relatif besar dan menjanjikan untuk meningkatkan lapangan usaha dan lapangan kerja, pemerintah berusaha untuk memberikan kemudahan agar pengusaha tertarik untuk berusaha di bidang pariwisata, dan sebaliknya para pengusaha sendiri berminat cukup besar untuk mengembangkan usahanya di bidang pariwisata, sehingga jumlah usaha pariwisata semakin meningkat;
  • Dengan Otoda akan meningkatkan kemampuan Pemda untuk membangun destinasi baru khususnya mengembangkan daya tarik wisata baik fisik maupun non fisik;
  • Peran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang aktif dalam berbagai forum kerjasama Kebudayaan dan Pariwisata di tingkat internasional, regional serta subregional memberikan kesempatan yang luas bagi dukungan masyarakat internasional terhadap pembangunan kebudayaan dan pariwisata nasional.
Sedangkan disisi kelemahannya antara lain :
  • Masih lemahnya apresiasi dan kecintaan terhadap budaya dan produk dalam negeri, antara lain karena kurangnya informasi;
  • Masih lemahnya peta dan sistem informasi kekayaan budaya berupa peta budaya dan dokumen arsip nasiaonal;
  • Krisis nilai budaya/jati diri (identitas) nasional, nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, keramahtamahan sosial, dan rasa cinta tanah air yang pernah dianggap sebagai kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia, makin pudar bersamaan dengan menguatnya nilai-nilai materialisme;
  • Masih belum optimalnya implementasi pembangunan berwawasan kebudayaan, tidak mampunya bangsa Indonesia mengadopsi budaya global yang lebih relevan bagi upaya pembangunan bangsa dan karakter bangsa (nation and character building). Lajunya pembangunan ekonomi yang kurang diimbangi oleh pembangunan karakter bangsa telah mengakibatkan krisis budaya yang selanjutnya memperlemah ketahanan budaya;
  • Masih belum optimalnya implementasi Etika Kehidupan Berbangsa. Kebanggaan atas jati diri bangsa seperti penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar, semakin terkikis oleh nilai-nilai yang dianggap lebih unggul. Identitas nasional meluntur oleh cepatnya penyerapan budaya global yang negatif;
  • Kurang tersosialisasinya Standar, Pedoman teknis, Kriteria, dan Prosedur pengembangan nilai budaya; Kompetensi dan kualitas SDM yang masih perlu ditingkatkan agar mampu melaksanakan program secara optimal dengan kompetensi pelayanan publik yang tinggi;
  • Database kebudayaan dan pariwisata yang tersedia belum mampu mendukung kebutuhan dalam proses pengambilan keputusan pembangunan sektor kebudayaan dan pariwisata yang aktual.
Berdasarkan data dan analisa SWOT tersebut maka pengembangan yang dilakukan antara lain :
  • Peningkatan pengelolaan kekayaan budaya sebagai upaya melestarikan kebudayaan daerah yang beragam dan kaya atas kebijakan lokal (local wisdom) dan kepakaran lokal (local genius);
  • Pengembangan nilai budaya untuk melestarikan tradisi, budi pekerti dan karakter bangsa sehingga mampu menghadapi perubahan besar yang melanda dunia;
  • Pengembangan dan Peningkatan daya saing SDM kebudayan dan pariwisata guna meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan dalam rangka meningkatkan daya saing nasional; Meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D) sehingga mampu memberikan dukungan dalam proses pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan kebudayaan dan pariwisata;
  • Pengoptimalan kapasitas pusat data dan informasi dalam upaya memperbesar desiminasi informasi pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan kepada masyarakat;
  • Pengelolaan keragaman budaya yang profesional dan sesuai zaman guna meningkatkan daya resistensi terhadap serbuan budaya global yang deras;
  • Pengembangan kekayaan budaya dalam upaya meningkatkan kualitas aset budaya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
· Dengan mengacu pada arah kebijakan pembangunan kebudayaan dan pariwisata yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional serta Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Kepariwisataan Nasional, program pembangunan kebudayaan dan pariwisata yang akan dilaksanakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di tahun 2005 – 2009 terdiri atas 9 program pokok, diantaranya adalah :
o Program Pengembangan Nilai Budaya : Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat Indonesia atas nilai-nilai budaya yang tumbuh di seluruh daerah sebagai dasar dalam pengembangan yang berwawasan kebudayaan yang dilaksanakan melalui kegiatan pokok, antara lain : Pelaksanaaan Kebijakan Pengembangan Nilai Budaya di seluruh wilayah Indonesia dan Pendukungan pengembangan nilai budaya daerah.
o Program Pengelolaan Keragaman Budaya : Program ini terutama ditujukan untuk meningkatkan peranserta dan apresiasimasyarakat di bidang perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan seni dan film melalui kegiatan-kegiatan pokok antara lain : Pengembangan dan Pelestarian Kesenian, Pendukungan pelaksanaan festival/peristiwa budaya daerah dan Pendukungan pengembangan keragaman budaya daerah.
o Program Pengelolaan Kekayaan Budaya : Program ini bertujuan untuk meningkatkan upaya-upaya penanaman nilai-nilai kekayaan budaya Indonesia dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan pokok seperti : Pengembangan Pemahaman Atas Kekayaan Budaya dan Pendukungan pengembangan keragaman budaya daerah.
o Program Pengembangan Kemitraan : Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya dan kerjasama antar lembaga guna mendukung pembangunan kebudayaan dan pariwisata nasional melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan pokok, antara lain : Pengembangan kebijakan SDM Kebudayaan dan pariwisata nasional, Peningkatan profesionalisme dan daya saing SDM kebudayaan dan pariwisata, Peningkatan penelitian dan pengembangan kebudayaan dan pariwisata dan Pendukungan pengembangan kapasitas pengelolaan kebudayaan dan kepariwisataan daerah.
Dengan latar belakang Visi dan Misi ITB serta Visi dan Misi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, serta program-program pokok yang dituangkan di dalam Rencana Strategis Departemen Kebudayaan dan Pariwisata seperti diuraikan di atas, maka disusunlah Proposal ini dengan judul : Peningkatan Kwalitas Akustik Musik Tradisional Indonesia

Pendahuluan:

Seperti yang sudah umum diketahui, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang bermacam ragam, disamping adanya bahasa daerah yang berbeda-beda, salah satunya juga dicirikan dengan adanya seni musik tradisional yang memiliki keunikan tersendiri. Meskipun memiliki karakteristik tradisional, namun beberapa jenis musik ini sudah cukup dikenal di mancanegara, bahkan ada group/sekehe musik tradisional yang berasal dari luar negeri. Misalnya musik gamelan Bali, musik Gamelan Jawa, angklung dsbnya. Disamping itu, berbagai jenis musik tradisional inipun sudah cukup sering dipagelarkan di berbagai gedung konser yang cukup terkenal di mancanegara. Namun sampai saat ini, tidak ada satupun dari musik tradisional yang memiliki kwalitas seni adi luhung ini yang memiliki 'rumah' berupa gedung konser di daerahnya masing-masing.
Bagi penonton hal yang terpenting yang diinginkan adalah medan akustik hasil dari pagelaran musik tradisional ini. Untuk mencapai kondisi yang optimal dari medan suara inilah peranan ilmu & teknologi akustik semestinya perlu dilibatkan. Secara umum dapat dijelaskan bahwa medan suara yang diterima oleh penonton dipengaruhi oleh faktor spektral, temporal dan spatial dari medan suara. Untuk memperoleh besaran parameter akustik medan suara dari musik tradisional ini, dapat dilakukan dengan melakukan penelitian psycho & physio-akustik. Hasil response subjektif dan objektif tersebut dapat digunakan untuk menentukan kondisi medan suara optimum yang diharapkan oleh umumnya penonton di dalam suatu gedung konser. Dengan mengubah besaran parameter ini menjadi besaran dimensi arsitektur, maka gedung konser yang 'dedicated' untuk jenis musik tradisional tertentu dapat dilakukan. Hal ini berarti perancangan arsitektur gedung konser tersebut semestinya dapat dilakukan dengan memanfaatkan besaran parameter akustik optimum dari medan suara.
Disamping faktor ruang gedung konser itu sendiri, karakteristik akustik dari sumber suara, yaitu alat musiknya sendiri, juga memiliki peran yang sangat penting, disamping musik hasil gubahan senimannya. Sampai saat ini dapat dikatakan bahwa belum ada standar karakteristik akustik dari masing2 alat musik tradisional Indonesia ini. Dengan tiadanya standar akustik ini (sesuai dengan faktor spektral, temporal dan spatialnya) menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan kwalitas akustik musik tradisional hasil gubahan seniman itu. Hal ini juga menyebabkan terjadinya kesulitan untuk menentukan besaran optimum parameter medan suara itu sendiri, mengingat karaketristik sinyal akustik dari musik itu sendiri sangat menentukan besaran parameter akustik optimum tersebut.
Sampai saat ini, pada umumnya karakteristik akustik dari alat musik tradisional ini dan juga proses pembuatan alat musik itu sendiri sangat tergantung kepada kemampuan pendengaran, pengetahuan dan pengalaman para pembuatnya (empu). Penilaian subjektif tersebut, diturunkan secara tradisional dari generasi pendahulunya, tanpa disertai dokumentasi teknis yang memadai dan bersifat objektif ( terutama kalau ditinjau dari sisi teknis & karakteristik fisikanya). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dan pengkajian yang bersifat integral, tentang karakteristik akustik alat musik itu sendiri beserta proses pembuatannya, struktur material dan juga struktur pendukungnya. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dihasilkan suatu standar dan paten yang semestinya dimiliki oleh masyarakat sendiri (dalam hal ini 'mungkin' dapat dikuasai atau dimiliki oleh negara c.q. Pemerintah, c.q. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata).
Di sisi pelaksanaan pagelarannya sendiri, set-up panggung dan penempatan posisi alat musik itu sendiri belum dirancang dengan memanfaatkan karakteristik parameter akustik dan juga performansi visual yang optimum. Tentunya dengan merancang set-up dan penempatan yang tepat dapat meningkatkan 'preferensi' medan suara yang diterima oleh penonton. Dalam hal inipun, 'preferensi' yang dituntut penonton dapat diperoleh dengan melakukan pengujian psiko & physioakustik.
Objektif:
  • Identifikasi potensi musik tradisional dari masing2 daera
  • Standar/paten alat musik tradisional dari masing2 daerah
  • Identifikasi karakteristik akustik alat musik tradisional
  • Dokumentasi proses pembuatan/metalurgi alat musik tradisional
  • Identifikasi subjektif/objektif ‘preferensi’ musik tradisional dengan konsep psiko/phisio-acoustics
  • Perancangan/modeling concert hall yg dedicated untuk masing2 jenis musik tradisional
  • Sosialisasi dan inseminsai ‘finding’ dan ‘hasil’ kepada stake holder.

Aktivitas

  • Sosialisasi program & pelatihan2 kpd dinas propinsi dan juga kpd masy stakeholder di masing2 propopinsi
  • Identifikasi SDM yang memadai
  • Identifikasi kebutuhan & manfaat di masing2 daerah (multi-purpose hall atau concert hall)
  • Penentuan fokus daerah dan jenis musik tradisionalnya
  • Survei dan pengukuran lapangan =>daerah? prospek?
  • Pengukuran & identifikasi data akustik hasil muhibah pagelaran musik tradisional di berbagai gedung konser
  • Feasibility study ttg pembangunan concert hall musik tradisional =>ekonomi, sosial, budaya dan dukungan stake holder
  • Sustainability development
Pentahapan/jadwal :
  • Koordinasi SDM
  • Sosialisasi & pelatihan kpd stake holder dari masing2 daerah
  • Penentuan musik tradisional yang menjadi objek penelitian
  • Penysunan dan set-up sarara & prasarana survey lapangan
  • Pengukuran lapangan (standar & karakteristik sumber, karakteristik akustik musik, psiko&physio akustik, survey dukungan masyarakat)
  • Sinyal processing, engineering drawing & data verification
  • Analisa data
  • Drafting paten dan standar
  • Analisa potensi kebutuhan kapasitas,dukungan budayawan dan potensi ekonomisnya
  • Architectural/concert hall design
  • Drafting report
  • Finalisasi report
  • Presentasi hasil penelitian di forum nasional dan internasional, disamping sosialisasi kepada institusi terkait, sponsor dan juga investor.
  • Penyusunan draft kebijakan dan blue-print yang terkait dengan implementasi di masing2 daerah

Kebutuhan Sarana/Prasarana:

  • Sarana instrumentasi pengukuran (software & hardware)
  • Sarana signal processing
  • Sarana drafting & reporting
  • Fasilitas laboratorium akustik untuk keperluan penelitian Psycho & Physio-acoustics (Fixed & portabel system)
  • Sarana Information Teknologi dan promosi / sosialisasi

Budgeting :

  • SDM
  • Administrasi, komunikasi & networking
  • Infrastruktur Software + hardware
  • Transportasi (sosialisasi, training, pengukuran & muhibah)
  • Seminar, presentasi & meeting (nasional & internasional)
  • Akomodasi
  • Training (teknis)
  • Pendidikan & beasiswa
  • Promosi + linkage
  • Dukungan sarana & latihan seniman
  • Appresiasi seniman (maestro) dan empu
  • Peningkatan pagelaran & kompetisi
  • Outsourcing (adm, tax, konsultan, hukum, paten, teknis)

Key Personel :

  • Acousticians
  • Signal processing & komputer
  • Psycho & Phisio Acoustics
  • Architecture & interior design
  • Seniman & Budayawan masing2 jenis musik tradisional
  • Surveyor Sosial, ekonomi & budaya
  • Administrasi dan managemen

Output dan outcomes :

  • Peningkatan pengetahuan dan pemahaman keilmuan akustik bagi seniman musik tradisional, budayawan & masyarakat
  • Data tentang seluruh potensi (SDM, 'semangat', peminat & pengembangan/peningkatan kualitas) musik tradisional dari masing-masing daerah
  • Standar, 'paten' dan karakteristik akustik dari masing-masing alat musik tradisional
  • Dokumentasi ilmiah proses pembuatan masing-masing alat musik tradisional
  • Rancangan set-up performansi dari masing2 alat2 musik untuk peningkatan kualitas musiknya
  • Karakteristik akustik (spektral, temporal dan spatial) yang optimum untuk performansi musiknya
  • Rancangan dan design arsitektur dari Gedung Kesenian atau Concert Hall yang dedicated untuk masing-masing jenis musik tradisional.
  • Rancangan konsep, renstra, dukungan kerjasama dan kebijakan serta sosialisasi dan promosi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar